Rabu, 20 April 2016

THE GAMES


   Arena lantai satu
   10.41 pm
     

     Awalnya semua terasa serba janggal juga membingungkan, lalu semuanya jelas, kami dalam bahaya besar, kami dalam ketakutan yang luar biasa, kami dalam mimpi paling mengerikan. Yah sebenarnya kuharap ini mimpi. Tapi semua kengerian ini terasa nyata, bahkan mimpi terburuk yang paling nyata sekalipun tak mungkin senyata ini.








    Jumlah kami semua empat belas orang, tujuh orang laki- laki termasuk aku dan tujuh orang perempuan. Tampak secara fisik rata rata kami semua sebaya,. Sekitar usia 17 hingga 19 tahun. Tapi sejauh ini tak ada satupun di antara kami yang saling mengenal, kami asing satu sama lain.
Tapi itu bukan kabar terburuknya, faktanya diantara kami tak satupun tahu alasan kami berada disini,apa yang terjadi dan sejak kapan kami terdampar di tempat asing ini.
Saat mataku terbuka tahu tahu aku sudah berada di tempat ini,kebingungan bercampur takut. Dan semua menyatakan hal yang sama terhadap apa yang menimpa mereka, jadi kami seperti tertidur lima abad lamanya dan bangun setengah linglung setengah gila, tak kenal satu sama lain dan tak tahu penyebab semuanya.

     Namaku jake, itu satu satunya yang kuingat dari diriku.

Setelah kuamati, tempat ini merupakan sebuah ruangan, cukup luas hingga mungkin akan mampu menampung sekitar 200 mobil truck untuk diparkir di tempat ini sekaligus,berlantai beton dan dinding semacam kaca yang tebal, saking tebalnya aku tak bisa melihat apapun diluar ruangan ini selain bayangan diriku, dan berani taruhan, dinding kaca itu takan bisa jebol walaupun diseruduk banteng ngamuk. Atapnya setinggi sekitar lima meter dari lantai, tanpa tiang dan dipenuhi lubang lubang kecil tempat lampu lampu neon tertanam disetiap jarak 5 meter.
Dan yang sedikit aneh, Sepanjang ruangan ini tak ada satupun benda disana, entah itu kursi,meja, ranjang, bahkan sebelum kami sadar tadi, kami hanya tergeletak di lantai dingin ini, seolah ruangan ini adalah sebuah panggung senam yang luas. Tapi itu bukan satu hal yang paling aneh diruangan ini, karena saat sejauh mataku memandang aku sadar kalau aku tidak melihat sebuah pintu atau lubang apapun untuk keluar dari tempat ini.
   
    " baiklah, ini benar benar gila, kita tidak tahu ini dimana, apa yang terjadi dan kita tak tahu apa yang harus kita lakukan.. ku harap ada salah satu di antara kita yang punya informasi yang berharga." pekik anak laki laki bernama jason bernada marah dan putus asa.
sudah sekitar tiga jam kami terjebak di tempat ini, tak ada hal yang berguna yang bisa kami lakukan, kami hanya duduk tersebar dengan bingung dan takut, beberapa anak mencoba menjebol dinding kaca, tapi seperti yang kubilang tadi kalau dinding itu takan sama sekali tergores. Kebanyakan dari kami hanya terduduk bisu, menangis, atau yang paling berguna mencoba bicara satu sama lain, walau hanya sekedar saling menyebutkan nama,. Karena hanya itu yang kami ingat, tapi setidaknya hal itu membuat kami tidak merasa sendirian.

Jadi setidaknya aku mulai mengenal mereka, anak laki laki berambut pirang bernama west, anak laki laki tinggi bernama lucas, brenda seorang anak perempuan bertubuh model, dua anak perempuan mungil bernama lily dan jorce, sam si anak laki laki berkacamata, anak laki laki kekar bernama jason, anak perempuan bernama natasha, dan anak laki laki kulit hitam bernama dilon. Sisanya aku belum tahu nama nama mereka, laki laki sipit yang duduk sendirian, anak perempuan berambut pirang sebahu, anak perempuan berambut kriting, dan anak perempuan bermuka masam. Selain karena mereka selalu berada cukup jauh denganku, tapi juga ada yang kurang terbuka seperti si muka masam.
Itu hubungan terjauh yang bisa kami lakukan, mencoba saling mengenal, andai saja kami tidak sedang terkurung layaknya hewan, pasti ini akan terasa seperti masa orientasi di sekolah,. Dalam kondisi mengerikan seperti ini rasa takut mengubur keinginan semua orang untuk bisa lebih akrab.